LOGO
  • Janganlah mencoba berbohong, sebab sekali Anda berbohong, maka untuk seterusnya Anda akan berbohong. Anda berbohong untuk yang kedua untuk menutupi kebohongan pertama, kemudian untuk menutupi kebohongan kedua, Anda akan melakukan kebohongan ketiga, demiki. Warning
  • Sendiri itu lebih baik daripada berkawan dengan orang yang buruk. Tapi berkawan dengan orang yang baik, jauh lebih baik daripada sendiri.. Orang Bijak
  • Barangsiapa kenal akan dirinya, maka kenal akan Tuhannya.. Hadits Nabi
  • Manis akan terasa nikmatnya, jika kita pernah tercicip rasa pahit. Orang bijak
  • Orang yg pantas ditangisi tidak akan membuatmu menangis, dan orang yg membuatmu menangis tidak pernah pantas buat kau tangisi. Mario Teguh
  • Ketika seseorang berusaha menjauhi hidupmu, biarkanlah. Kepergian dia hanya membuka pintu bagi seseorang yang lebih baik tuk masuk.. Mario Teguh
  • Semangat ! Jangan iri atas keberhasilan oranglain, karena kamu tidak mengetahui apa yang telah ia korbankan untuk mencapai keberhasilannya itu.. Orang Sukses
  • Jangan menyerah atas impianmu, impian memberimu tujuan hidup. Ingatlah, sukses bukan kunci kebahagiaan, kebahagiaanlah kunci sukses.. Orang Bijak
  • Waktu adalah pedang, jika kamu bisa menggunakan dengan baik, maka pasti akan membawa keberuntungan, tapi jika kau menggunakan dengan buruk, pasti dia akan membunuhmu. Orang Sukses
  • Jika kamu memiliki keinginan tuk memulai, kamu juga harus mempunyai keberanian dan keinginan untuk menyelesaikannya, bukan hanya mengakhiri.. Orang Bijak
  • Terkadang, kamu berusaha menghindari sesuatu, bukan berarti kamu membencinya. Kamu menginginkannya tapi kamu tahu bahwa itu salah. Orang Bijak
  • Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik.. Orang Bijak
  • Sepi itu menyakitkan tapi mengajarkan kita akan kesadaran kita membutuhkan org lain dlm hidup in. Orang Bijak
  • Berhentilah mencari alasan kenapa anda tidak sukses, mulailah mencari jawaban bagaimana agar anda sukses. Orang Bijak
  • Keraguan bukanlah untuk menghentikan upaya. Upayamu adalah untuk membuktikan bahwa keraguanmu salah.. Orang Bijak
  • Dlm hdup, anda tak akn slalu mendapatkn apa yg paling anda inginkn, terkadang anda hanya mendapat pelajaran yg sebenarnya lbih anda butuhkn.. Orang Bijak
  • Cemburu berarti kamu takut kehilangannya, tapi cemburu yang berlebih akan membuat kamu kehilangannya.. Orang Bijak
  • Dalam hidup, kamu tak harus mengerti segalanya, krna ada beberapa hal yg tak bisa dimengerti tp hanya bisa diterima. Trust God!. Orang Bijak
  • Sesungguhnya tugas Anda adalah mengubah keharusan hidup Anda, dari pribadi yang MENUNGGU, menjadi pribadi yang DITUNGGU. Orang Bijak
  • Melihat kebelakang akan membawa kejelasan di depan. Belajar dari kesulitan dulu akan membawa berkah sekarang dan nanti.. Orang Bijak
  • Berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.. Orang Bijak
  • Keraguan bukanlah untuk menghentikan upaya. Upayamu adalah untuk membuktikan bahwa keraguanmu salah.. Orang Bijak
  • Cinta Hadir karena perkenalan, bersemi karena perhatian, bertahan karena kesetiaan. Namun cinta bisa gugur karena kebohongan.. Orang Bijak

BERITA

  • Ketika Partisipasi Masyarakat Menjadi Terabaikan

    Ketika Partisipasi Masyarakat Menjadi Terabaikan

    26 April 2017 Administrator Dibaca : 400 Kali

    Ketika Partisipasi Masyarakat Menjadi Terabaikan

    Oleh Agus Sudiana

     

    Birokrasi itu memang rumit

    Jika ada ungkapan “Jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?”, maka ungkapan tersebut sempat menjadi sebuah “kenyataan” bahkan seakan-akan telah menjadi bagian dari “karakter” atau “budaya” sekelompok orang, yang bernama “oknum”.

    Sejauh ini, banyak masyarakat yang mengeluh akan rumitnya berurusan dengan lembaga-lembaga layanan masyarakat. Kadang kerap terkesan diskriminatif.  Banyak masyarakat merasa dan mengalami rumitnya rantai prosedur urusan ini. Belum lagi acap muncul sikap arogan dari sebagian “oknum: aparat yang menjadi petugas layanan tersebut. Tapi pada suatu kondisi, justru sebagian masyarakat lain memperoleh layanan “spesial”. Mulai dari keramahan sikap petugas sampai cepatnya proses penyelesaian administrasi.

    Ironis, sebagian slogan kantor dengan tulisan “Melayani dengan Hati”, “Anda Sopan kamipun Segan”, atau tulisan yang bersifat peringatan seperti “Jangan Meminta Bantuan Calo!” seolah sebuah hiasan kantor. Formalitas. Sedangkan praktiknya masih tetap berjalan sebaliknya. Banyak layanan yang dilakukan “setengah hati”. Konsumen sudah bersikap sopan, tapi petugas malah “arogan”.  Dan yang lebih menyedihkan, petugas malahan seraing menjadi “calo orang dalam”.

    Perpres Ibarat BOM

    Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2016, menjadi sebuah bukti kesungguhan Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Ir. H. Joko Widodo, atas keinginannya untuk menyapu bersih yang namanya “pungutan liar” atau PUNGLI.

    Ini hal yang sangat positif bagi penegakan aturan dan etika layanan, khususnya di lingkungan birokrasi pemerintahan, yang selama ini kerap menjadi “terminal” bagi para pelaku pungli tersebut.

    Gebrakan dan gerakan “Sapu Bersih Pungutan Liar” atau kemudian populer dengan istilah “saberpungli”,  menjadi sebuah komitmen nasional. Ini karena digerakan dari struktur tertinggi, Presiden, hingga ke tingkat terbawah. Dan targetpun “bertumbangan”. Sekurang-kurangnya, “belingsatan” alias berlari tunggang langgang.

    Siapa yang merasakan dampaknya? Ya masyarakat. Pada umumnya lega, karena dalam berurusan dengan petugas, sudah tidak khawatir lagi akan “ditekan” oleh biaya tambahan diluar ketentuan. Sikap aparatpun menjadi semakin ramah dan familiar dan terbuka.

    Saberpungli laksana dinamit yang telah merontokkan arogansi birokrasi layanan yang selama ini sangat meresahkan. Bagaimana tidak, Tim Saberpungli yang merupakan gabungan berbagai elemen pemerintah dan penegak hukum ini, bergerak bukan hanya di ruang lingkup se-level kementerian, melainkan sampai ke kantor-kantor terbawah di tingkat desa atau kelurahan, bahkan konon sampai ke level RT.

    Pungli Di Sekolah?

    Pungli ternyata terindikasi marak juga di sekolah. Masa? Begitulah sekelompok orang mendefinisikannya. Beberapa kegiatan di sekolah yang “konon” terindikasi pungli diantaranya: biaya pelaksanaan PPDB1, biaya semesteran/ujian, pakaian seragam sekolah, pembelian buku/LKS, biaya bimbel, biaya perpisahan kelas 3, iuran kooperasi, iuran OSIS, iuran pramuka, infak siswa, dan sebagainya.

    Agak aneh, memang. Sekolah yang memiliki perangkat seperti Komite Sekolah, Kooperasi Sekolah, Unit Kegiatan kesiswaan (OSIS, Pramuka, PMR, dll), jelas-jelas memiliki payung hukum dan legitimasi masyarakat, masih bisa terindikasi melakukan pungli. Jawabannya: Bisa!.

    Beberapa alasan yang membuatnya seperti itu: Pertama, pengumpulan dana partisipasi masyarakat tidak memiliki landasan hukum yang melindunginya. Kedua, mungkin saja perangkat yang ada memang tidak diberdayakan sesuai aturan. Pungutan  dilakukan pihak sekolah tanpa mekanisme musyawarah komite sekolah dan tidak sesuai dengan juklak atau juknis kegiatan yang ada. Ketiga, dana atau biaya kegiatan yang dilaksanakan di sekolah sebenarnya bisa dan mampu dibiayai oleh dana operasional yang diterima  sekolah. Keempat, kisaran  biaya yang dibebankan kepada orang tua siswa dianggap terlalu besar atau tidak sesuai dengan kemampuan sosial ekonomi masyarakat. Kelima, kurang mengakomodasi keberagaman masyarakat, yang semestinya bisa dilakukan dengan prinsip subsidi silang antar orang tua siswa. Keenam, kurang komunikasi antara sekolah dengan orang tua siswa, sehingga masyarakat (orang tua siswa) kurang memahami manfaat penggunaan biaya.

    Prinsipnya, agar pengumpulan sumbangan di sekolah tidak dimasukkan kategori pungli, maka dibutuhkan hal-hal berikut:

    1. Ada “payung hukum” dalam setiap penyelenggaraan kegiatan penarikan biaya dari masyarakat, misalnya berbentuk Perbup, Perda, Pergub, dst.
    2. Mekanisme penarikan sumbangan didasarkan atas dasar musyawarah mupakat para orang tua siswa dengan dikoordinir oleh komite sekolah.
    3. Penghimpunan dana dari partisipasi masyarakat dilakukan jika sumber dana yang ada, sama sekali tidak mengakomodasi pembiayaan kegiatan tersebut.
    4. Setiap penggunaan dana yang dihimpun dari partisipasi masyarakat, pelaksananya hendaknya  masyarakat itu sendiri (dikoordinir komite sekolah), dan pihak sekolah hanya menerima hasil, tanpa terlibat dalam pengelolaan penggunaan keuangan.

    Lain di birokrasi, lain  pula di masyarakat

    Pasca digembar-gemborkan saberpungli, oknum aparat yang selama ini ditenggarai menjadi pihak yang terlibat, sontak bersembunyi. Tepatnya menahan diri, untuk tidak –lagi- melakukan praktek tersebut. Tapi diam-diam oknum masyarakat kini terkesan bebas melakukannya.

    Lihatlah di jalanan, baik yang mengatasnamakan “ormas” maupun yang bertindak spontan, nampak berkeliaran para pemalak dan peminta-minta. Bermodalkan pakaian seragam atau atribut yang menyeramkan, mereka berkeliaran mencari sasaran. Berdalih kontribusi atau  sumbangan, mereka melakukan pungutan.

    Amatilah atribut liar yang dibubuhkan di hampir setiap kendaraan  pengangkut barang antar provinsi, akan ditemukan bermacam-macam label komunitas preman. Atau kemunitas lain yang melakukan “roadshow” dari kantor ke kantor, seraya mencatat beragam cela dan kesalahan, untuk ditukar dengan sebuah “perdamaian”. Adakah sentuhan “sakti” dari Tim Saberpungli untuk oknum-oknum ini?

     

     

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks